Tradisi dan Kehidupan Adat Masyarakat Sade yang Tetap Lestari

Di tengah perkembangan kawasan wisata Lombok yang semakin modern, Kampung Sade menawarkan suasana yang cukup berbeda.

Rumah beratap alang-alang masih berdiri berdekatan, perempuan menenun di depan rumah, dan berbagai aturan serta kebiasaan lokal terus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakatnya.

Sade berada di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, dan dihuni masyarakat Sasak. Indonesia Travel menyebut tradisi di kawasan ini telah dipelihara selama sekitar 15 generasi.

Sekitar 150 rumah tradisional masih berada di kawasan Sade dan benar-benar digunakan sebagai tempat tinggal, bukan sekadar bangunan museum.

Karena itulah tradisi dan kehidupan adat masyarakat Sade menarik untuk dipahami lebih dekat. Budaya di sini bukan hanya sesuatu yang ditampilkan ketika wisatawan datang.

Ia terlihat dalam bentuk rumah, kegiatan menenun, perkawinan, hubungan kekeluargaan, gotong royong, nilai keagamaan, hingga cara masyarakat beradaptasi dengan pariwisata.

Sade menunjukkan bahwa tradisi bisa terus hidup tanpa harus sepenuhnya menutup diri dari perubahan zaman.

Kehidupan Masyarakat Sade Berpusat pada Keluarga dan Komunitas

Salah satu ciri kuat kehidupan masyarakat Sade adalah hubungan kekeluargaan yang dekat.

Indonesia Travel mencatat sekitar 750 orang tinggal di kawasan tradisional Sade dan masyarakatnya masih memiliki hubungan garis keturunan atau kekerabatan yang erat. Rumah-rumah mereka pun berada dalam lingkungan permukiman yang relatif rapat.

Kondisi tersebut membuat kehidupan sehari-hari tidak terlalu individual.

Keluarga, tetangga, tokoh adat, dan anggota komunitas mempunyai hubungan penting dalam berbagai kegiatan sosial.

Penelitian tentang kearifan lokal masyarakat Sade juga menemukan nilai seperti gotong royong, religi, seni, sejarah, dan ekonomi masih menjadi bagian dari identitas komunitas.

Tradisi akhirnya tidak hanya dijaga melalui aturan tertulis.

Anak-anak melihat bagaimana orang tua menjalankan kebiasaan tertentu, mengikuti kegiatan keluarga, serta mengenal aturan sosial sejak kecil. Proses seperti inilah yang membantu budaya diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Rumah Adat Menjadi Bagian dari Kehidupan Sehari-hari

Rumah tradisional menjadi salah satu unsur paling mudah dikenali di Sade.

Terdapat sekitar 150 rumah adat dengan bentuk atap yang khas dan penggunaan material seperti alang-alang, bambu, tanah liat, serta bahan alami lainnya.

Rumah tersebut masih dihuni masyarakat sehingga kawasan Sade lebih tepat disebut sebagai lingkungan budaya hidup dibanding sekadar objek wisata.

Salah satu rumah yang dikenal adalah Bale Tani, yang berkaitan erat dengan kehidupan keluarga masyarakat Sasak.

Rumah tidak hanya berfungsi untuk tidur dan berlindung. Bentuk serta penataan ruangnya berhubungan dengan kebiasaan keluarga, nilai sosial, dan cara masyarakat memandang hubungan antara manusia dengan lingkungannya.

Ada pula tradisi unik dalam merawat lantai rumah.

Lantai berbahan tanah secara berkala dilapisi campuran yang mengandung kotoran sapi atau kerbau. Menurut Indonesia Travel, praktik tersebut bertujuan membantu mengurangi debu, memperkuat lantai, dan mencegah serangga masuk.

Bagi orang luar mungkin terdengar tidak biasa, tetapi bagi masyrakat Sade, praktik ini merupakan bagian dari pengetahuan lokal yang diwariskan sejak lama.

Menenun Menjadi Tradisi Penting bagi Perempuan Sasak

Jika berjalan menyusuri Sade, wisatawan cukup mudah menemukan perempuan sedang menenun.

Tradisi ini memiliki posisi penting dalam kehidupan perempuan Sasak. Indonesia Travel menyebut keterampilan menenun mulai dipelajari sejak usia muda dan menjadi salah satu bentuk pelestarian budaya perempuan di Sade.

Menenun bukan keterampilan yang bisa dikuasai secara instan.

Penenun perlu mengenal cara mengatur benang, membentuk pola, menjaga kerapatan kain, serta memahami berbagai motif yang digunakan. Pengetahuan tersebut biasanya diperoleh melalui pengalaman dan pembelajaran di lingkungan keluarga.

Saat ini fungsi menenun semakin luas.

Selain menjadi bagian dari kebudayaan, kain tenun juga dijual kepada wisatawan sehingga memberikan sumber pendapatan bagi masyarakat.

Aktivitas budaya yang dahulu terutama berkaitan dengan kehidupan internal komunitas sekarang mempunyai nilai ekonomi tambahan karena berkembangnya pariwisata.

Penelitian tentang perubahan sosial Sade memang menemukan bahwa pariwisata telah memberi fungsi ekonomi baru pada berbagai unsur adat tanpa otomatis menghilangkan fungsi tradisionalnya.

Tradisi Merariq dalam Perkawinan Masyarakat Sasak

Salah satu adat Sasak yang paling sering menarik perhatian wisatawan adalah merariq atau merarik.

Tradisi ini berkaitan dengan proses perkawinan ketika calon pengantin perempuan dibawa bersama pihak laki-laki sebelum kemudian dilakukan tahapan komunikasi dan pembicaraan antarkeluarga.

Penelitian khusus mengenai masyarakat Sasak Sade mencatat merariq sebagai tradisi yang mempunyai peran sosial dan melibatkan posisi laki-laki serta perempuan dalam rangkaian adat perkawinan.

Merariq sering diterjemahkan secara sederhana sebagai “kawin lari”.

Namun pemahaman tersebut belum menjelaskan keseluruhan proses. Setelah tahap awal berlangsung, keluarga dan perwakilan pihak laki-laki tetap terlibat dalam pembicaraan mengenai rencana perkawinan.

Indonesia Travel juga mencatat adanya proses utusan keluarga untuk mendiskusikan kelanjutan pernikahan.

Karena itu, merariq sebaiknya dipahami dalam konteks adat Sasak secara utuh, bukan hanya berdasarkan istilah “penculikan” yang sering digunakan dalam promosi wisata.

Tradisi perkawinan juga menunjukkan betapa pentingnya keluarga dalam struktur sosial masyarakat Sade.

Adat, Agama, dan Nilai Kehidupan Berjalan Bersama

Masyarakat Sade saat ini mayoritas hidup dengan tradisi Sasak yang berjalan berdampingan dengan ajaran Islam.

Indonesia Travel mencatat unsur budaya Sasak di Sade telah berbaur dengan praktik keagamaan Islam. Beberapa urusan sosial, termasuk perkawinan, berhubungan dengan ruang seperti masjid dan Baruga Sekenam.

Kondisi ini menunjukkan bahwa adat tidak selalu berdiri terpisah dari agama.

Dalam kehidupan masyarakat, keduanya dapat saling memengaruhi. Nilai kekeluargaan, penghormatan terhadap orang tua, musyawarah, aturan sosial, hingga kegiatan bersama berkembang melalui perpaduan pengalaman adat dan keagamaan.

Kajian mengenai civic culture masyarakat Sade juga mencatat pelestarian kearifan lokal terlihat dalam pelaksanaan upacara adat, penyambutan tamu, serta penerapan aturan atau awiq-awiq di lingkungan komunitas.

Aturan seperti ini membantu menjaga keteraturan sosial.

Artinya, kehidupan adat bukan hanya soal pakaian atau rumah tradisonal, tetapi juga menyangkut cara masyarakat mengatur hubungan satu sama lain.

Gotong Royong Masih Menjadi Nilai Penting

Kehidupan masyarakat tradisional sulit dipisahkan dari semangat kebersamaan.

Di Sade, gotong royong termasuk salah satu nilai yang masih ditemukan dalam penelitian mengenai kearifan lokal masyarakat. Nilai tersebut hadir bersama unsur religi, seni, sejarah, serta ekonomi dalam kehidupan komunitas.

Gotong royong dapat muncul ketika masyarakat menjalankan kegiatan adat maupun menyelesaikan kebutuhan bersama.

Prinsipnya sederhana: pekerjaan yang menyangkut komunitas tidak selalu dibebankan kepada satu orang. Keterlibatan warga membantu memperkuat hubungan sosial sekaligus menumbuhkan rasa memiliki terhadap kampung.

Nilai seperti ini menjadi penting dalam proses pelestarian budaya.

Rumah adat, kegiatan budaya, penyambutan tamu, hingga berbagai tradisi tidak mungkin bertahan hanya karena satu keluarga. Dibutuhkan keterlibatan masyarakat secara lebih luas.

Penelitian tentang budaya kewargaan masyarakat Sade bahkan melihat pelestarian tradisi sebagai aktivitas kolektif yang terus dijalankan melalui kehidupan sosial komunitas.

Seni Tradisional Melengkapi Kehidupan Budaya Sade

Budaya masyarakat Sade juga terlihat melalui seni.

Beberapa unsur budaya yang kerap dikaitkan dengan kawasan ini antara lain tenun, Gendang Beleq, serta Peresean.

Penelitian mengenai kearifan lokal Sade mencatat bangunan tradisional, tenun, Peresean, dan seni budaya lainnya menjadi bagian penting dari daya tarik kawasan tersebut.

Peresean, misalnya, merupakan adu ketangkasan tradisional masyarakat Sasak yang menggunakan tongkat rotan dan perisai.

Saat ini seni seperti Peresean juga mempunyai fungsi sebagai pertunjukan budaya bagi wisatawan. Penelitian terbaru menilai Peresean memiliki potensi sebagai bagian dari pengembangan wisata budaya Sade.

Namun seni adat sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai hiburan.

Di balik pertunjukan terdapat nilai keberanian, keterampilan, identitas komunitas, serta sejarah yang lebih panjang. Begitu pula kain tenun bukan hanya barang dagangan, tetapi hasil pengetahuan yang diwariskan.

Dengan memahami latar belakangnya, wisatawan dapat melihat budaya secara lebih utuh.

Pariwisata Membawa Peluang sekaligus Perubahan

Sade sekarang tidak hidup terisolasi dari dunia luar.

Kawasan ini telah berkembang menjadi destinasi wisata budaya. Pertemuan dengan wisatawan, teknologi, media, serta perkembangan ekonomi membuat pola kehidupan masyarakat turut mengalami perubahan.

Penelitian Universitas Gadjah Mada menunjukkan interaksi dengan wisatawan dan masyarakat luar menjadi salah satu faktor perubahan pola komunikasi komunitas Sasak Sade.

Penelitian lain mengenai perubahan sosial menemukan pariwisata memberi nilai ekonomi baru kepada adat dan budaya.

Namun penelitian tersebut juga mengingatkan bahwa orientasi ekonomi yang terlalu dominan dapat mempersempit regenerasi kearifan lokal jika fungsi sosial dan budaya tidak mendapat perhatian yang sama.

Ini menjadi tantangan penting.

Pariwisata dapat membuka pekerjaan sebagai pemandu, penenun, pedagang kerajinan, atau pelaku wisata. Pada saat bersamaan, masyarakat perlu memastikan tradisi tidak hanya dipertahankn karena menarik bagi pengunjung.

Budaya akan jauh lebih kuat ketika tetap mempunyai arti bagi masyarakat pemiliknya.

Kehidupan Adat Tidak Berarti Menolak Modernisasi

Sering ada anggapan bahwa kampung adat harus terlihat sama persis seperti ratusan tahun lalu agar dianggap autentik.

Pada kenyataannya, masyarakat Sade tetap mengalami perubahan.

Penelitian UGM menggambarkan bagaimana masyarakat memiliki pengetahuan kolektif mengenai adat dan tradisi sekaligus berhadapan dengan modernitas serta globalisasi.

Proses tersebut menghasilkan identitas sosial baru sebagai masyarakat yang hidup di lingkungan pariwisata budaya.

Jadi, menggunakan telepon seluler, berinteraksi dengan wisatawan, atau mengenal sistem ekonomi modern tidak otomatis menghapus budaya Sasak.

Hal yang lebih penting adalah bagaimana nilai dan pengetahuan lokal tetap diwariskan.

Penelitian etnoekologi tahun 2025 juga melihat Sade sebagai permukiman tradisional yang sekaligus berfungsi sebagai tujuan wisata budaya dan pusat pengetahuan lokal yang masih bertahan.

Tradisi yang hidup memang dapat berubah.

Justru kemampuan beradaptasi sering menjadi alasan sebuah budaya mampu bertahan lama.

Cara Menghargai Kehidupan Adat Saat Berkunjung ke Sade

Mengunjungi Sade berarti memasuki lingkungan tempat orang benar-benar tinggal.

Rumah-rumah di kawasan tersebut bukan replika wisata. Indonesia Travel secara khusus menjelaskan bahwa bangunan tersebut merupakan hunian masyarakat.

Karena itu, wisatawan sebaiknya menjaga sikap.

Gunakan pemandu lokal untuk memahami kampung, minta izin sebelum masuk rumah atau mengambil foto seseorang dari dekat, serta dengarkan penjelasan masyarakat mengenai tradisi mereka.

Jika membeli kain atau kerajinan, bertanya mengenai proses pembuatannya juga bisa membuat pengalaman lebih bermakna.

Pengujung bukan hanya memperoleh suvenir, tetapi juga memahami tenaga, waktu, dan pengetahuan yang ada di balik produk tersebut.

Dengan cara seperti ini, wisata tidak berhenti pada mengambil foto. Kunjungan juga menjadi bentuk penghargaan terhadap masyarakat yang menjaga budaya tersebut setiap hari.

Tradisi dan kehidupan adat masyarakat Sade memperlihatkan bagaimana budaya Sasak masih hadir dalam aktivitas sehari-hari.

Rumah Bale Tani, kegiatan menenun, merariq, gotong royong, aturan adat, agama, serta seni tradisional menjadi bagian dari identitas komunitas yang diwariskan lintas generasi.

Pada saat yang sama, Sade terus berhadapan dengan pariwisata dan modernisasi. Perubahan membawa peluang ekonomi, tetapi juga menuntut keseimbangan agar budaya tidak hanya berubah menjadi komoditas wisata.

Jika berkunjung ke Lombok Tengah, cobalah menjelajahi Sade dengan lebih perlahan. Jangan hanya melihat rumah dan membeli suvenir.

Dengarkan cerita masyarakat, pahami kebiasaannya, dan hormati ruang hidup mereka. Dari sana, kita bisa melihat bahwa tradisi yang paling menarik adalah tradisi yang masih mempunyai arti bagi orang yang menjalankannya.

FAQ

1. Siapa yang tinggal di Kampung Adat Sade?

Kampung Sade dihuni masyarakat Sasak di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Indonesia Travel mencatat sekitar 750 orang tinggal di kawasan tradisional tersebut dan memiliki hubungan kekerabatan yang erat.

2. Apa saja tradisi yang terkenal di Sade?

Beberapa yang dikenal antara lain menenun, merariq dalam perkawinan Sasak, kehidupan di rumah tradisional Bale Tani, kegiatan adat, serta berbagai seni seperti Peresean dan Gendang Beleq.

3. Apakah rumah adat Sade masih dihuni?

Ya. Sekitar 150 rumah tradisional di kawasan Sade masih digunakan sebagai tempat tinggal masyarakat dan bukan sekadar bangunan pameran.

4. Apakah masyarakat Sade masih menenun?

Ya. Tradisi menenun masih dijalankan terutama oleh perempuan Sasak dan sekaligus menjadi salah satu produk ekonomi yang dijual kepada wisatawan.

5. Apakah pariwisata mengubah kehidupan masyarakat Sade?

Ya. Penelitian menunjukkan pariwisata memengaruhi pola komunikasi, pembagian kerja, dan fungsi ekonomi budaya, tetapi masyarakat tetap berusaha mempertahankan berbagai nilai serta tradisi lokal.