Ketika mendengar Kampung Sade, banyak orang langsung membayangkan rumah beratap alang-alang, kain tenun Sasak, dan tradisi masyarakatnya. Padahal, jauh sebelum pariwisata berkembang, kehidupan masyarakat Sade sangat erat dengan pertanian.
Bertani menjadi salah satu cara utama keluarga memenuhi kebutuhan pangan sekaligus membangun pola kehidupan yang bertahan selama beberapa generasi.
Pertanian tradisional masyarakat Sade memiliki karakter yang cukup berbeda dengan kawasan persawahan beririgasi sepanjang tahun.
Dusun Sade berada di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, kawasan yang memiliki banyak lahan pertanian tadah hujan. Penelitian di Desa Rembitan bahkan mencatat potensi sawah tadah hujannya mencapai sekitar 882 hektare.
Ketergantungan terhadap hujan membuat masyarakat harus pandai membaca musim dan mengatur hasil panen. Padi, jagung, kacang-kacangan, dan sayuran menjadi beberapa komoditas yang dibudidayakan.
Hasil pertanian juga berhubungan dengan lumbung tradisional yang sejak lama menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Sasak Sade.
Pertanian Sudah Lama Menjadi Bagian dari Kehidupan Sade
Sebelum dikenal sebagai tujuan wisata budaya, kehidupan ekonomi Sade sangat kuat bertumpu pada kegiatan agraris.
Penelitian tahun 2025 mengenai perekonomian masyarakat setempat menyebut pertanian sebagai salah satu sektor ekonomi utama, berdampingan dengan peternakan dan kerajinan tangan.
Pola tersebut juga terlihat dari pembagian aktivitas tradisional masyarakat. Indonesia Kaya menggambarkan sebagian besar laki-laki Sade bekerja sebagai petani, sedangkan perempuan banyak menghasilkan kain tenun atau sesek.
Hubungan dengan pertanian bahkan tercermin melalui arsitektur.
Salah satu rumah tradisional yang terkenal di Sade adalah Bale Tani. Nama dan fungsi rumah tersebut tidak dapat dilepaskan dari latar masyarakat agraris Sasak.
Kehadiran lumbung padi di lingkungan permukiman semakin memperlihatkan bahwa kegiatan bercocok tanam bukan sekadar pekerjaan, melainkan bagian dari struktur kehidupan kampung.
Karena itulah memahami Sade hanya melalui pariwisata terasa belum lengkap. Di balik rumah adat dan kain tenunnya terdapat sejarah panjang sebuah komunitas petani.
Mengandalkan Sawah Tadah Hujan
Karakter utama pertanian Sade adalah ketergantungannya terhadap air hujan.
Berbeda dengan sawah yang memperoleh pasokan air dari jaringan irigasi sepanjang musim, pertanian tadah hujan sangat bergantung pada datangnya hujan.
ANTARA mencatat masyarakat Sade secara tradisional melakukan panen padi sekitar sekali dalam setahun karena kondisi tersebut.
Laporan Republika pada 2025 juga menggambarkan pola serupa. Petani Sade mengandalkan hujan sehingga hasil panen padi harus diatur agar mampu memenuhi kebutuhan keluarga hingga musim panen berikutnya.
Ketergantungan pada musim membuat waktu menjadi faktor penting.
Ketika hujan mulai datang, petani perlu menyiapkan lahan dan menentukan saat yang tepat untuk menanam. Jika hujan terlambat atau berhenti terlalu cepat, produksi berpotensi ikut terpengaruh.
Inilah yang membuat pertanian tadah hujan membutuhkan pengalaman lokal yang kuat. Petani tidak sekadar memasukkan benih ke tanah, tetapi juga harus memahami kondisi lahan dan pola musim.
Padi, Jagung, Kacang-Kacangan, dan Sayuran
Apa yang sebenarnya ditanam oleh masyarakat Sade?
Penelitian mengenai perekonomian Desa Adat Sade menyebut beberapa tanaman utama berupa padi, jagung, kacang-kacangan, dan sayuran.
Komoditas tersebut dibudidayakan di sawah maupun ladang menggunakan pola pertanian yang masih sangat dipengaruhi musim hujan.
Padi memiliki posisi khusus karena menjadi pangan utama.
Namun kondisi lahan membuat diversifikasi tanaman menjadi masuk akal. Setelah atau di luar periode padi, tanaman lain yang lebih sesuai dengan kondisi lahan dapat menjadi alternatif.
Jagung merupakan salah satu komoditas penting di Desa Rembitan. Penelitian Universitas Mataram yang dilakukan pada 2023 terhadap petani jagung di Desa Rembitan menemukan bahwa usaha tani jagung di wilayah tersebut secara ekonomi layak diusahakan.
Penelitian itu juga menunjukkan benih, pestisida, dan tingkat pendidikan formal petani termasuk faktor yang memengaruhi produksi.
Ini menunjukkan bahwa pertanian di sekitar Sade tidak sepenuhnya berhenti pada metode lama.
Ada pertemuan antara pengetahuan tradisional dengan benih, sarana produksi, dan pengelolan pertanian yang terus berkembang.
Gogo Rancah, Cara Beradaptasi dengan Keterbatasan Air
Salah satu istilah yang sering muncul ketika membicarakan pertanian lahan kering di Lombok adalah gogo rancah atau sering disingkat gora.
ANTARA menjelaskan gogo rancah sebagai metode yang digunakan untuk menyiasati kondisi lahan dengan keterbatasan air. Petani mulai mempersiapkan tanah menjelang musim hujan, kemudian memanfaatkan curah hujan untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
Bagi wilayah seperti Sade, pendekatan semacam ini sangat relevan.
Petani harus memaksimalkan periode ketika air tersedia. Mereka tidak bisa selalu menunggu kondisi ideal seperti pada lahan dengan irigasi teknis.
Sistem tersebut juga memperlihatkan kemampuan adaptasi masyarakat.
Pertanian tradisonal bukan berarti petani bekerja tanpa strategi. Justru keterbatasan lingkungan mendorong munculnya pengetahuan mengenai kapan lahan dipersiapkan, kapan tanaman dimulai, dan bagaimana hasil panen harus disimpan.
Pengalaman seperti ini biasanya tidak diperoleh hanya dari buku. Banyak pengetahuan berkembang melalui praktik bertahun-tahun dan diwariskan di lingkungan keluarga petani.
Lumbung Padi Menjadi Strategi Ketahanan Pangan
Panen setahun sekali membawa pertanyaan penting: bagaimana keluarga memenuhi kebutuhan beras selama berbulan-bulan?
Salah satu jawabannya terdapat pada lumbung padi tradisional.
ANTARA melaporkan masyarakat Sasak di Sade masih mempertahankan tradisi menyimpan hasil panen di dalam lumbung. Dalam laporan tersebut, satu lumbung dapat digunakan bersama oleh sekitar lima hingga enam kepala keluarga.
Laporan Republika tahun 2025 menyebut pola serupa, dengan satu lumbung dapat mencukupi kebutuhan beberapa keluarga. Hasil pertanian yang disimpan terutama dimanfaatkan untuk kebutuhan pangan sehari-hari sampai panen berikutnya.
Dengan demikian, lumbung bukan sekadar bangunan cantik yang menjadi ikon Lombok.
Fungsi awalnya sangat praktis: menjaga persediaan pangan.
Masyarakat yang tidak bisa memanen padi setiap beberapa bulan membutuhkan sistem penyimpanan yang baik. Mereka harus mengatur hasil panen agar tidak habis terlalu cepat.
Di sinilah arsitektur tradisional bertemu dengan strategi ekonomi keluarga.
Lumbung sekaligus menjadi bukti bahwa masyarakat Sade sudah lama memahami pentingnya menyimpan hasil pada saat tersedia untuk menghadapi periode ketika produksi berkurang.
Pertanian, Peternakan, dan Kehidupan Rumah Tangga
Pertanian tradisional Sade juga tidak berdiri sendiri.
Penelitian tahun 2025 mencatat peternakan menjadi sektor ekonomi lain yang berjalan berdampingan dengan aktivitas bercocok tanam. Hewan yang dipelihara masyarakat antara lain sapi, kerbau, kambing, dan ayam.
Hubungan antara tanaman dan ternak merupakan pola yang umum ditemukan dalam masyarakat agraris.
Jerami dan sisa tanaman dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga maupun ternak, sementara hewan memberikan sumber daya tambahan bagi keluarga.
Dalam konteks rumah tradisional Sade, jerami juga tercatat digunakan bersama tanah liat sebagai bagian dari bahan lantai rumah.
Artinya, hasil pertanian tidak selalu berhenti ketika bahan pangan sudah dipanen.
Sisa produksinya bisa memperoleh fungsi baru.
Cara memanfaatkan berbagai sumber daya tersebut memperlihatkan pola kehidupan yang relatif hemat bahan. Banyak hal digunakan kembali sesuai kebutuhan dan ketersediaan lingkungan.
Pariwisata Mengubah Mata Pencaharian Masyarakat
Pertanian tetap menjadi bagian dari identitas Sade, tetapi struktur ekonominya sekarang jauh lebih beragam.
Penelitian tentang perkembangan pariwisata di Sade menunjukkan masyarakat yang sebelumnya banyak bergantung pada pertanian, peternakan, dan kerajinan mulai memperoleh kesempatan kerja baru.
Sebagian menjadi pemandu wisata, membuka usaha makanan, menjual kerajinan, atau bekerja pada berbagai layanan wisata.
Perubahan tersebut cukup mudah dipahami.
Pertanian tadah hujan tidak selalu mampu memberikan pemasukan sepanjang tahun. Sementara kunjungan wisata membuka sumber pendapatan tambahan ketika kegiatan di sawah sedang tidak padat.
Kegiatan menenun juga mempunyai hubungan dengan pola ini. Penelitian 2025 menyebut kerajinan tenun secara turun-temurun dilakukan pada waktu ketika tidak ada pekerjaan di sawah, lalu berkembang semakin penting seiring bertambahnya wisatawan.
Jadi, pertanian dan pariwisata tidak selalu harus dipandang saling menggantikan.
Bagi banyak keluarga, keduanya dapat menjadi bagian dari strategi mencari nafkah yang lebih beragam.
Tantangan Pertanian Sade di Masa Sekarang
Ketergantungan pada hujan tentu menjadi tantangan terbesar. Perubahan pola curah hujan dapat membuat waktu tanam semakin sulit diprediksi.
Penelitian mengenai perekonomian Sade juga memasukkan perubahan iklim, fluktuasi harga input pertanian, keterbatasan modal, serta akses teknologi sebagai beberapa persoalan yang dihadapi masyarakat.
Selain itu, perkembangan pariwisata menciptakan pilihan pekerjaan baru.
Hal ini positif karena pendapatan keluarga menjadi lebih beragam, tetapi dalam jangka panjang juga menimbulkan pertanyaan tentang regenerasi petani.
Ketika pekerjaan di sektor wisata dianggap lebih menarik atau memberikan pendapatan lebih cepat, generasi muda mungkin tidak lagi melihat pertanian sebagai pilihan utama.
Karena itu, mempertahankan pertanian bukan berarti menolak modernisasi.
Teknologi pengelolaan air, benih yang sesuai kondisi setempat, diversifikasi tanaman, akses pasar, serta pengembangan produk pertanian lokal bisa membantu membuat sektor ini tetap relevan.
Tradisi bertani dapat dipertahankan sambil tetap menerima inovasi yang bermanfaat.
Pertanian sebagai Bagian dari Identitas Kampung Sade
Bagi wisatawan, pertanian Sade mungkin tidak sepopuler rumah adat atau kain songket.
Padahal, keduanya sebenarnya berhubungan.
Bale Tani mengingatkan pada kehidupan petani. Lumbung padi menunjukkan cara keluarga menjaga persediaan makanan.
Kerajinan berkembang sebagai aktivitas ekonomi lain di luar sawah. Bahkan struktur mata pencaharian masyarakat sejak dahulu banyak dibentuk oleh musim pertanian.
Artinya, budaya Sade tidak bisa sepenuhnya dipisahkan dari cara masyarakat menghasilkan makanan.
Pertanian membentuk ritme kehidupan.
Ketika musim hujan tiba, perhatian masyarakat tertuju pada lahan. Ketika masa pertanian lebih longgar, aktivitas ekonomi lainnya seperti kerajinan dan pariwisata memperoleh ruang lebih besar.
Inilah salah satu alasan pertanian tradisional masyarakat Sade menarik untuk dipelajari. Ia bukan hanya cerita tentang menanam padi, melainkan tentang bagaimana sebuah komunitas menyesuaikan kehidupan dengan alam.
Pertanian tradisional masyarakat Sade memperlihatkan kemampuan komunitas Sasak beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang tidak selalu mudah.
Sawah tadah hujan membuat petani sangat bergantung pada musim, sehingga padi, jagung, kacang-kacangan, dan tanaman lainnya harus dikelola dengan mempertimbangkan ketersediaan air.
Tradisi menyimpan hasil panen dalam lumbung menjadi salah satu bentuk strategi ketahanan pangan yang berkembang bersama kehidupan agraris masyarakat.
Sementara itu, pariwisata kini memberi sumber pendapatan baru dan membuat ekonomi keluarga semakin beragam. Jika berkunjung ke Kampung Sade, jangan hanya melihat rumah dan kain tenunnya.
Perhatikan pula lumbung, tanyakan tentang musim panen, dan dengarkan cerita kehidupan petani setempat. Dari sana, kita bisa memahami bahwa budaya Sade juga tumbuh dari tanah yang mereka garap.
FAQ
1. Apa mata pencaharian tradisional masyarakat Sade?
Pertanian merupakan salah satu mata pencaharian utama masyarakat Sade, bersama peternakan dan kerajinan. Pariwisata kemudian berkembang menjadi sumber pendapatan tambahan yang semakin penting.
2. Apa saja tanaman yang dibudidayakan masyarakat Sade?
Penelitian tentang perekonomian Sade mencatat padi, jagung, kacang-kacangan, dan sayuran sebagai beberapa tanaman utama yang dibudidayakan masyarakat.
3. Mengapa petani Sade sangat bergantung pada musim hujan?
Lahan pertanian di kawasan Sade dan Desa Rembitan banyak menggunakan sistem tadah hujan, sehingga ketersediaan air sangat dipengaruhi oleh curah hujan dan musim.
4. Mengapa masyarakat Sade memiliki lumbung padi?
Lumbung digunakan untuk menyimpan hasil panen agar persediaan pangan dapat dimanfaatkan oleh keluarga hingga musim panen berikutnya. Secara tradisional satu lumbung dapat digunakan bersama oleh beberapa keluarga.
5. Apakah masyarakat Sade sekarang masih bekerja sebagai petani?
Ya. Pertanian masih menjadi bagian dari perekonomian Sade, tetapi banyak warga kini juga memperoleh pendapatan dari pariwisata, kerajinan, perdagangan, dan jasa lainnya.