Di tengah perkembangan pariwisata Lombok yang semakin modern, ada sebuah kampung yang menawarkan pengalaman berbeda.
Bukan hotel mewah atau pantai berpasir putih yang menjadi daya tarik utamanya, melainkan rumah beratap alang-alang, jalan kecil di antara permukiman, kain tenun, dan tradisi masyarakat yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Tempat itu adalah Kampung Adat Sade, salah satu permukiman tradisional masyarakat Sasak yang berada di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.
Secara administratif, Sade sebenarnya merupakan sebuah dusun, meskipun wisatawan lebih sering mengenalnya sebagai Desa Sade atau Desa Wisata Sade.
Sejarah Kampung Adat Sade menarik karena tidak hanya berbicara tentang usia sebuah permukiman.
Ceritanya juga berkaitan dengan bagaimana masyarakat Sasak mempertahankan arsitektur, adat, sistem sosial, keterampilan menenun, serta nilai kehidupan leluhur di tengah perubahan zaman.
Sumber resmi pariwisata Indonesia bahkan menyebut tradisi masyarakat Sade telah dipertahankan selama sekitar 15 generasi.
Asal-Usul Kampung Adat Sade dan Masyarakat Sasak
Tidak ada satu catatan tertulis yang benar-benar memastikan tahun pertama Kampung Sade mulai dihuni. Karena itu, sejarah awal kampung ini lebih banyak diwariskan melalui cerita masyarakat, tradisi lisan, dan pengetahuan yang diturunkan antargenerasi.
Hal yang lebih jelas adalah bahwa Sade merupakan permukiman masyarakat Sasak, kelompok masyarakat asli yang menjadi bagian penting dari sejarah dan identitas Pulau Lombok.
Kampung ini berkembang sebagai lingkungan tempat tinggal yang kehidupan sosialnya sangat erat dengan hubungan kekerabatan.
Sumber Indonesia Travel menyebut masyarakat Sade telah menjaga tradisinya selama sekitar 15 generasi. Saat ini permukiman tersebut terdiri atas sekitar 150 rumah dan dihuni ratusan masyarakat Sasak yang sebagian besar masih memiliki hubungan kekerabatan.
Nama “Sade” sendiri dalam sumber resmi pariwisata Indonesia dikaitkan dengan makna “obat” atau “kesadaran” dalam bahasa Sasak.
Namun dibanding hanya mencari kapan kampung ini pertama berdiri, sejarah Sade justru lebih menarik ketika dilihat dari kemampuannya menjaga pola kehidupan tradisional selama bergenerasi.
Rumah Adat Menjadi Rekaman Sejarah yang Masih Hidup
Salah satu cara termudah memahami sejarah Kampung Adat Sade adalah melihat rumah-rumah tradisionalnya.
Rumah di kawasan ini bukan replika yang sengaja dibangun untuk wisata. Rumah tersebut benar-benar menjadi tempat tinggal masyarakat.
Karena itulah Sade lebih tepat dipahami sebagai living culture atau budaya yang masih dijalankan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar museum terbuka.
Sebagian rumah tradisional memiliki atap dari alang-alang serta menggunakan bahan alami seperti bambu dan tanah.
Bentuk bangunan tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat Sasak pada masa lalu menyesuaikan tempat tinggal dengan bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.
Rumah tradisional yang dikenal sebagai Bale Tani menjadi salah satu unsur penting dalam arsitetkur Sade.
Menurut Indonesia Travel, rumah-rumah tersebut menggunakan atap alang-alang, sedangkan sebagian lantai dan struktur bangunannya memanfaatkan tanah liat serta bahan alami lainnya.
Keberadaan bangunan seperti ini membuat perjalanan menyusuri Sade terasa seperti membaca sejarah melalui ruang dan bentuk rumah.
Tradisi Membersihkan Lantai yang Bertahan Turun-Temurun
Salah satu kebiasaan yang sering menarik perhatian pengunjung adalah penggunaan campuran berbahan kotoran sapi atau kerbau untuk merawat lantai tradisional.
Bagi pengunjung yang baru pertama mengetahuinya, tradisi ini mungkin terdengar tidak biasa. Namun bagi masyarakat setempat, praktik tersebut merupakan pengetahuan tradisional yang telah digunakan dalam merawat lantai rumah.
Lapisan tersebut disebut membantu menjaga lantai agar tidak mudah berdebu, memperkuat permukaan, serta membantu mencegah serangga masuk.
Tradisi ini memperlihatkan bahwa sejarah masyarakat Sade bukan hanya tersimpan dalam cerita besar. Pengetahuan sederhana mengenai bagaimana membangun dan merawat rumah juga menjadi bagian dari warisan budaya.
Hal-hal kecil semacam inilah yang membuat identitas Sade tetap terasa autentik meski kampung tersebut kini dikunjungi banyak wisatwan.
Tenun Sasak dan Peran Perempuan dalam Menjaga Tradisi
Sejarah Kampung Adat Sade juga tidak dapat dipisahkan dari tradisi menenun.
Di teras-teras rumah, pengunjung masih dapat melihat perempuan Sasak menghasilkan kain menggunakan alat tenun tradisional. Keterampilan ini diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat.
Dalam tradisi setempat, perempuan mempelajari keterampilan menenun sejak usia muda. Indonesia Travel menyebut menenun sebagai salah satu bentuk penting pelestarian budaya masyarakat Sasak di Sade.
Kain yang dihasilkan tidak sekadar menjadi barang dagangan. Di balik setiap proses pemintalan dan penyusunan benang terdapat pengetahuan mengenai motif, teknik, kesabaran, dan keterampilan yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Ketika pariwisata berkembang, tenun kemudian memiliki fungsi tambahan sebagai sumber ekonomi masyarakat. Tradisi yang dahulu terutama berhubungan dengan kebutuhan sosial dan budaya kini juga mempertemukan masyarakat lokal dengan wisatawan.
Dengan demikian, tenun menjadi contoh bagaimana warisan lama bisa bertahan sekaligus menyesuaikan diri dengan zaman.
Adat, Agama, dan Kehidupan Sosial Masyarakat Sade
Kehidupan masyarakat Sade juga memperlihatkan hubungan antara tradisi Sasak dan perkembangan kehidupan keagamaan di Lombok.
Saat ini masyarakat Sade mayoritas beragama Islam, sementara sejumlah tradisi lokal tetap dipertahankan sebagai bagian dari identitas sosial.
Indonesia Travel mencatat bahwa unsur budaya Sasak dan ajaran Islam telah menyatu dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat setempat.
Salah satu tradsi yang cukup dikenal adalah merariq atau tradisi kawin lari dalam budaya Sasak. Dalam praktik tradisionalnya, calon mempelai perempuan dibawa oleh pihak laki-laki sebelum keluarga kemudian melakukan proses pembicaraan menuju pernikahan.
Tentu saja masyarakat Sade tidak hidup sepenuhnya seperti masyarakat ratusan tahun lalu. Pendidikan, teknologi, pariwisata, dan interaksi dengan masyarakat luar terus membawa perubahan.
Menariknya, perubahan tersebut tidak otomatis menghapus identitas kampung.
Dari Permukiman Adat Menjadi Destinasi Wisata Budaya
Perjalanan Sade menjadi destinasi wisata juga merupakan bagian penting dari sejarah modern kampung ini.
Menurut Indonesia Travel, wisatawan sudah mulai mengunjungi Dusun Sade sejak sekitar 1975-an. Posisi kampung yang berada di jalur Praya–Kuta ikut mempermudah wisatawan menemukan permukiman ini ketika bepergian menuju kawasan selatan Lombok.
Sebuah penelitian yang diterbitkan Journal of Responsible Tourism pada 2026 menyebut Sade kemudian memperoleh pengakuan sebagai desa wisata melalui kebijakan Pemerintah Provinsi NTB pada 1989.
Sejak saat itu, fungsi Sade perlahan berkembang.
Masyarakat yang sebelumnya banyak bergantung pada pertanian dan kegiatan tradisional mendapatkan pilihan ekonomi baru melalui pemanduan wisata, pertunjukan seni, penjualan kain tenun, kerajinan tangan, hingga berbagai produk lokal.
Perubahan ini juga membawa tantangan. Pariwisata memberikan pemasukan, tetapi budaya tidak boleh berubah hanya menjadi pertunjukan untuk pengunjung.
Karena itu, mempertahankn keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan keaslian budaya menjadi salah satu persoalan penting bagi masa depan Kampung Sade.
Mengapa Kampung Sade Bisa Bertahan hingga Sekarang?
Ada satu alasan penting mengapa sejarah Sade masih bisa kita lihat secara langsung: pewarisan budaya berlangsung di dalam keluarga dan komunitas.
Anak-anak tumbuh dengan melihat orang tua menjalankan adat. Keterampilan menenun dipelajari dari generasi sebelumnya, sementara bentuk rumah, tata ruang kampung, seni, serta kebiasaan sosial terus diperkenalkan kepada generasi muda.
Penelitian mengenai perkembangan wisata Sade juga menunjukkan bahwa masyarakat lokal tetap berperan langsung dalam mempertahankan budaya sekaligus memperkenalkannya kepada pengunjung.
Artinya, kelestarian kampung bukan hanya bergantung pada bangunan.
Sebuah Bale Tani bisa diperbaiki atau dibangun kembali. Namun tanpa masyarakat yang memahami maknanya, bangunan tersebut mudah berubah menjadi sekadar objek foto.
Kekuatan Sade justru terletak pada manusianya.
Kampung Adat Sade sebagai Warisan Budaya yang Terus Berubah
Menjaga tradisi tidak selalu berarti menolak modernisasi.
Masyarakat Sade sekarang berinteraksi dengan wisatawan Indonesia maupun mancanegara. Generasi mudanya mengenal teknologi, pendidikan modern, media sosial, serta berbagai peluang pekerjaan di luar kampung.
Pada saat yang sama, banyak unsur budaya leluhur tetap dijaga.
Inilah yang membuat Sade menarik sebagai contoh perubahan sosial. Kampung ini memperlihatkan bahwa kebudayaan tidak harus membeku untuk bisa disebut autentik.
Budaya dapat beradaptasi, selama masyarakat pemiliknya tetap memiliki ruang untuk menentukan apa yang ingin dipertahankan dan bagaimana warisan tersebut diteruskan kepada generas berikutnya.
Bagi wisatawan, cara terbaik menghargai proses itu adalah berkunjung dengan sikap hormat.
Dengarkan penjelasan pemandu lokal, minta izin sebelum memotret seseorang, dan jika memungkinkan dukung ekonomi warga dengan membeli kerajinan langsung dari masyarakat.
Sejarah Kampung Adat Sade di Lombok Tengah bukan sekadar cerita tentang sebuah permukiman tua.
Sade adalah kisah mengenai masyarakat Sasak yang berhasil membawa berbagai warisan leluhur-mulai dari rumah adat, tenun, kehidupan sosial hingga tradisi-melewati perubahan selama banyak generasi.
Perkembangan pariwisata sejak sekitar 1970-an kemudian membawa babak baru.
Kampung yang sebelumnya terutama menjadi ruang hidup masyarakat lokal berubah menjadi salah satu destinasi budaya terkenal di Lombok, tanpa sepenuhnya kehilangan karakter tradisionalnya.
Jika suatu hari berkunjung ke Lombok Tengah, jangan hanya datang ke Sade untuk mengambil foto.
Luangkan waktu untuk mendengar cerita masyarakatnya, memahami rumah adat, melihat proses menenun, dan mengenal nilai yang membuat kampung ini terus bertahan hingga sekarang.
FAQ
1. Di mana Kampung Adat Sade berada?
Kampung Adat Sade berada di Dusun Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.
2. Apakah Sade merupakan desa atau dusun?
Secara administratif Sade merupakan sebuah dusun di wilayah Desa Rembitan. Namun karena popularitasnya sebagai destinasi wisata budaya, nama Desa Sade atau Desa Wisata Sade lebih sering digunakan oleh wisatawan.
3. Berapa usia Kampung Adat Sade?
Tidak ada satu tahun pendirian yang dapat dipastikan dari sumber tertulis. Sumber resmi Indonesia Travel menyebut masyarakat Sade telah mempertahankan tradisinya selama sekitar 15 generasi.
4. Sejak kapan Kampung Sade menjadi tempat wisata?
Wisatawan tercatat sudah mengunjungi Sade sejak sekitar 1975-an. Sejumlah sumber penelitian menyebut pengakuannya sebagai kawasan/desa wisata berkembang kemudian pada sekitar 1989.
5. Apa yang membuat Kampung Adat Sade terkenal?
Sade terkenal karena kehidupan masyarakat Sasak, rumah tradisional Bale Tani, tradisi menenun, adat perkawinan, kerajinan lokal, serta pola kehidupan masyarakat yang masih mempertahankan banyak warisan leluhur.